Q1 - Bagaimana pertumbuhan IHSG dari 1995–2026?
IHSG menunjukkan tren pertumbuhan jangka panjang yang jelas, dari level sekitar 470 poin di awal Januari 1995 menjadi sekitar 6.234 poin pada data terakhir - tumbuh sekitar 13,26 kali lipat. Namun pertumbuhannya tidak merata: estimasi return tahunan per dekade (rata-rata daily return dikalikan 252 hari trading) menunjukkan 2000-an sebagai dekade paling cepat tumbuh (16,75%/tahun), disusul 1990-an (12,64%) dan 2010-an (10,78%), sementara 2020-an jauh paling stagnan (1,55%/tahun).
Insight: 2000-an tampil sebagai dekade dengan pertumbuhan tercepat - kemungkinan besar karena efek recovery rally pasca-Krisis 1998 yang baru pulih penuh di tahun 2004, sehingga sisa dekade itu terdorong tren naik kuat. Sebaliknya, 2020-an tercatat paling stagnan, konsisten dengan periode pemulihan pasca-Covid-19 yang juga terjadi di dekade ini. Investor jangka panjang secara historis tetap diuntungkan oleh tren pertumbuhan struktural 31 tahun, meski laju pertumbuhan antar dekade jauh dari merata.
Q2 - Seberapa dalam drawdown krisis besar, dan berapa lama pemulihannya?
Tiga krisis besar diidentifikasi dari data drawdown (penurunan dari puncak tertinggi ke titik terendah berikutnya, bisa berlangsung berbulan-bulan/bertahun-tahun, misal dari puncak 1997 sampai titik terendah 1998):
| Periode | Titik Terendah | Max Drawdown | Lama Pemulihan |
| Krisis 1998 | 21 Sep 1998 | -65,33% | 1.936 hari |
| Krisis 2008 | 28 Okt 2008 | -60,73% | 524 hari |
| Covid-19 2020 | 24 Mar 2020 | -41,14% | 597 hari |
Lama pemulihan dihitung sebagai jumlah hari kalender sejak titik terendah krisis hingga IHSG kembali menyentuh level tertinggi sebelum krisis tersebut (bukan sekadar "harga naik lagi").
Contoh cara baca Krisis 1998: IHSG turun dari puncak 740,80 poin ke titik terendah 256,82 poin pada 21 Sep 1998 (penurunan 65,33%). Baru pada 9 Januari 2004 - 1.936 hari kemudian, setara ±5 tahun 4 bulan - IHSG kembali menyentuh level 740,80 poin tersebut.
Insight: Krisis yang dipicu masalah struktural domestik (1998) atau sistemik global (2008) cenderung punya drawdown lebih dalam dan pemulihan lebih lama, dibanding guncangan eksternal jangka pendek seperti Covid-19. Kedalaman krisis tidak selalu berbanding lurus dengan lamanya pemulihan - IHSG selalu berhasil pulih ke level sebelumnya, menegaskan karakter pasar yang volatile jangka pendek namun resilien jangka panjang.
Q3 - Apakah volatilitas berubah dari dekade ke dekade?
Distribusi rolling volatility 30 hari (standar deviasi return harian dalam 30 hari trading terakhir, dihitung bergerak sepanjang waktu) menunjukkan sebaran yang berbeda-beda antar dekade - dekade yang mencakup krisis besar (1998, 2008) menunjukkan rentang volatilitas yang jauh lebih lebar.
Insight: Volatilitas melonjak signifikan pada periode krisis dan mereda pada periode stabil - dikonfirmasi lewat uji statistik di section berikutnya.
Q4 - Adakah pola musiman yang konsisten setiap tahun?
Rata-rata return harian per bulan (digabung dari 31 tahun data) menunjukkan variasi antar bulan - termasuk indikasi pola yang sering diasosiasikan dengan window dressing (kenaikan harga saham menjelang akhir tahun karena manajer investasi "mempercantik" portofolionya) di bulan Desember. Namun, saat dipecah per tahun lewat heatmap, warna (positif/negatif) pada bulan yang sama ternyata bervariasi cukup besar antar tahun.
Insight: Ada indikasi pola musiman pada rata-rata jangka panjang, tapi pola ini tidak konsisten terjadi di setiap tahun - kondisi makroekonomi tahunan tampak jadi faktor yang lebih dominan dibanding efek kalender semata. Strategi timing pasar berbasis kalender saja berisiko tinggi tanpa didukung analisis fundamental tambahan.
Q5 - Apakah volume perdagangan berkaitan dengan pergerakan harga?
Diuji menggunakan korelasi Spearman (mengukur kekuatan hubungan dua variabel dari -1 sampai +1, tanpa asumsi hubungan harus linear) antara Volume dan return, baik di hari yang sama maupun hari berikutnya:
| Analisis | Spearman Corr | P-value | Signifikan? |
| Volume vs Return (hari sama) | 0,0337 | 0,00315 | Yes |
| Volume vs Return (hari berikutnya) | 0,0041 | 0,71846 | No |
Insight: Meski korelasi hari-sama tercatat "signifikan" secara statistik, nilainya (0,0337) sangat mendekati nol - artinya hubungannya nyaris tidak ada secara praktis. Volume perdagangan saja tidak cukup kuat untuk dijadikan indikator arah harga. Lonjakan volume bisa terjadi baik saat pasar naik maupun turun (misalnya saat panic selling), sehingga Volume lebih cocok dipakai sebagai indikator intensitas aktivitas pasar, bukan sinyal arah harga mandiri.