Q1 - Bagaimana pertumbuhan IHSG dari 1995–2026?
IHSG menunjukkan tren pertumbuhan jangka panjang yang jelas, dari level sekitar 470 poin di awal Januari 1995 menjadi sekitar 6.234 poin pada data terakhir - tumbuh sekitar 13,26 kali lipat. Namun pertumbuhannya tidak merata: dihitung majemuk (pertumbuhan berbunga-bunga per tahun, dari akhir dekade sebelumnya), 2000-an paling cepat tumbuh (14,11%/tahun), disusul 2010-an (9,53%) dan 1990-an (7,58%), sementara 2020-an hampir tidak tumbuh (-0,16%/tahun: 6.299,5 menjadi 6.234,5). Catatan: 1990-an di data hanya mencakup 1995-1999 dan 2020-an baru sampai Agustus 2026, jadi panjang dekadenya tidak sama.
Insight: 2000-an tampil sebagai dekade dengan pertumbuhan tercepat - kemungkinan besar karena efek recovery rally (kenaikan harga yang cepat dan berlangsung beberapa waktu setelah pasar jatuh, karena harga rebound dari titik yang sangat rendah) pasca-Krisis 1998 yang baru pulih penuh di tahun 2004, sehingga sisa dekade itu terdorong tren naik kuat. Sebaliknya, 2020-an tercatat paling stagnan (hampir tidak tumbuh), konsisten dengan periode pemulihan pasca-Covid-19 yang juga terjadi di dekade ini. Investor jangka panjang secara historis tetap diuntungkan oleh tren pertumbuhan struktural (pertumbuhan jangka panjang yang didorong perkembangan ekonomi, bukan naik-turun sesaat) 31 tahun, meski laju pertumbuhan antar dekade jauh dari merata.
Q2 - Seberapa dalam drawdown krisis besar, dan berapa lama pemulihannya?
Tiga krisis besar diidentifikasi dari data drawdown (penurunan dari puncak tertinggi ke titik terendah berikutnya, bisa berlangsung berbulan-bulan/bertahun-tahun, misal dari puncak 1997 sampai titik terendah 1998):
| Periode | Titik Terendah | Max Drawdown | Lama Pemulihan |
| Krisis 1998 | 21 Sep 1998 | -65,33% | 1.936 hari |
| Krisis 2008 | 28 Okt 2008 | -60,73% | 524 hari |
| Covid-19 2020 | 24 Mar 2020 | -41,14% | 597 hari |
Lama pemulihan dihitung sebagai jumlah hari kalender sejak titik terendah krisis hingga IHSG kembali menyentuh level tertinggi sebelum krisis tersebut (bukan sekadar "harga naik lagi").
Contoh cara baca Krisis 1998: IHSG turun dari puncak 740,80 poin ke titik terendah 256,82 poin pada 21 Sep 1998 (penurunan 65,33%). Baru pada 9 Januari 2004 - 1.936 hari kemudian, setara ±5 tahun 4 bulan - IHSG kembali menyentuh level 740,80 poin tersebut.
Insight: 1998 paling dalam (-65,33%) sekaligus paling lama pulih (1.936 hari). 2008 hampir sedalam itu (-60,73%) tapi pulih jauh lebih cepat (524 hari), bahkan lebih cepat dari Covid-19 yang jatuhnya lebih dangkal (-41,14%, 597 hari). Jadi kedalaman krisis tidak selalu berbanding lurus dengan lamanya pemulihan - IHSG selalu berhasil pulih ke level sebelumnya, menegaskan karakter pasar yang volatile jangka pendek namun resilien jangka panjang.
Q3 - Apakah volatilitas berubah dari dekade ke dekade?
Secara visual, distribusi rolling volatility 30 hari (standar deviasi return harian dalam 30 hari trading terakhir, dihitung bergerak sepanjang waktu) menunjukkan sebaran yang berbeda-beda antar dekade - dekade yang mencakup krisis besar (1998, 2008) menunjukkan rentang volatilitas yang jauh lebih lebar. Untuk mengujinya secara statistik, dipakai Kruskal-Wallis (uji non-parametrik untuk membandingkan sebaran lebih dari 2 kelompok, tanpa asumsi data berdistribusi normal) pada besarnya gerakan harian (nilai absolut return harian: seberapa besar harga bergerak, tanpa memandang naik atau turun) yang dikelompokkan per dekade:
| Dekade | Std Dev Return Harian | Median Gerakan Harian (|return|) |
| 1990-an | 2,039% | 0,73% |
| 2000-an | 1,547% | 0,81% |
| 2010-an | 1,041% | 0,52% |
| 2020-an | 1,166% | 0,56% |
| Analisis | H-statistic | P-value | Signifikan? |
| Besar gerakan harian antar 4 dekade | 240,24 | < 0,001 | Yes |
Insight: Volatilitas berbeda signifikan antar dekade (p < 0,001), bukan kebetulan acak. Kedua ukuran di tabel sepakat bahwa 2010-an (paling tenang) dan 2020-an jauh lebih stabil dibanding 1990-an dan 2000-an, dua dekade yang memuat krisis besar (1998 dan 2008). Urutan teratasnya berbeda: simpangan baku tertinggi di 1990-an karena banyak hari ekstrem saat Krisis 1998, sedangkan gerakan harian yang biasa paling besar di 2000-an.
Q4 - Adakah pola musiman yang konsisten setiap tahun?
Rata-rata return harian (rata-rata persentase naik/turunnya harga per hari) per bulan, digabung dari 31 tahun data, menunjukkan variasi antar bulan - termasuk indikasi rally akhir tahun (kenaikan harga saham menjelang akhir tahun) di bulan Desember, yang sering dikaitkan dengan window dressing (manajer investasi "mempercantik" portofolionya menjelang laporan akhir tahun). Saat dipecah per tahun lewat heatmap (peta warna: baris = tahun, kolom = bulan, hijau = rata-rata return positif, merah = negatif), Desember memang menonjol: rata-rata return-nya positif (di atas 0) di 28 dari 31 tahun (90%), dan hanya negatif di 2000, 2022, dan 2024. Bulan lain mendekati acak (hasilnya seperti lempar koin: kadang naik, kadang turun, tanpa pola jelas), dengan hanya 45-75% tahun positif, misalnya Agustus hanya 15 dari 31 tahun penuh atau 48% (2026 tidak dihitung karena baru 1 hari data).
Insight: Hanya Desember yang menunjukkan pola cukup konsisten (positif di 90% tahun, jauh di atas bulan lain yang rata-rata sekitar 58%), sejalan dengan dugaan window dressing. Bulan lainnya mendekati acak, dan analisis ini belum menguji signifikansi statistiknya (uji untuk memastikan pola bukan sekadar kebetulan). Karena itu pola kalender sebaiknya dipakai sebagai konteks tambahan, bukan satu-satunya dasar strategi timing pasar (memilih kapan membeli atau menjual berdasarkan waktu tertentu).
Q5 - Apakah volume perdagangan berkaitan dengan pergerakan harga?
Diuji menggunakan korelasi Spearman (mengukur kekuatan hubungan dua variabel dari -1 sampai +1, tanpa asumsi hubungan harus linear) antara Volume dan return, baik di hari yang sama maupun hari berikutnya:
| Analisis | Spearman Corr | P-value | Signifikan? |
| Volume vs Return (hari sama) | 0,0337 | 0,00315 | Yes |
| Volume vs Return (hari berikutnya) | 0,0041 | 0,71846 | No |
Insight: Meski korelasi hari-sama tercatat "signifikan" secara statistik, nilainya (0,0337) sangat mendekati nol - artinya hubungannya nyaris tidak ada secara praktis. Volume perdagangan saja tidak cukup kuat untuk dijadikan indikator arah harga. Lonjakan volume bisa terjadi baik saat pasar naik maupun turun (misalnya saat panic selling), sehingga Volume lebih cocok dipakai sebagai indikator intensitas aktivitas pasar, bukan sinyal arah harga mandiri.